Catatan Pernikahan: Menikah Menumbuhkan Tawakal pada Allah

Selepas akad, saya belum terbayang seperti apa nanti menjadi istri. Ketika kita memasak, hamil, melahirkan dan mendidik. Tentu, persiapan tersebut sudah ada jauh-jauh hari dengan banyak belajar. Namun setelah beberapa bulan menikah, saya menjadi tahu rasanya.

Menikah berarti menumbuhkan tawakal pada Allah. Tinggal dengan suami dan mertua, jauh dari keluarga inti dan tidak membawa fasilitas apapun, menjadikan saya belajar bahwa benar, dalam ayat-ayat Al Qur’an kita di ajarkan untuk bertawakal pada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Allah tempat kita bergantung dan bersandar. Tidak bersandar pada makhluk. Apapun kita meminta kepadaNya. 

Menikah mengajarkan rasa sabar dan syukur. 

Jika saya menengok kisah kedua orangtua saya dulu saat saya masih kecil, mereka pun hidup sederhana. Saya diajari sejak kecil untuk prihatin. Uang jajan terbatas dan di jatah. Jika ingin jajan lagi, ibu selalu tegas untuk menolak memberikan uang lagi meski sesekali saya diberi uang hanya berapa rupiah yang tidak seberapa dibandingkan sekarang. Tentu kondisi ini berbeda ketika kedua adik saya bertumbuh besar. Mereka tumbuh ketika orangtua kami sudah mapan. Terbayang perbedaannya?

Kami berjuang bersama dari benar-benar titik terbawah. Tapi kami berusaha untuk terus bertawakal pada Allah. Saya tahu, mapan adalah proses panjang, butuh perjuangan, butuh doa-doa, butuh sabar-syukur dan tawakal.
Selasa, 17-10-2017

Yogyakarta…

Iklan

🌻KECERDASAN INTERPERSONAL 🌻

Ananda ramah dan murah senyum? Suka menyapa duluan orang lain, baik teman sebaya maupun orang yang lebih tua? Suka bersosialisasi dan gampang membaur saat berada di suatu tempat, misal di taman bermain?
Selamat! Berarti ananda adalah anak yang memiliki KECERDASAN INTERPERSONAL.
Dear Ayah Bunda,

Kecerdasan interpersonal atau yang juga sering disebut sebagai kecerdasan sosial adalah kecerdasan yang berhubungan dengan kemampuan untuk memahami dan menghadapi sikap dan perasaan orang lain. Biasanya hal ini ditunjukkan dengan ekspresi wajah, suara, gerakan tubuh yang dilakukan orang lain.
Anak-anak yang memiliki kecerdasan interpersonal yang baik, maka ia akan cenderung bisa memahami dan berinteraksi dengan orang lain sehingga mereka mudah bersosialisasi di lingkungan sekitarnya. 
🌻 CIRI- CIRI ANAK CERDAS SECARA INTERPERSONAL ⤵
1. Mudah bergaul dan disukai oleh teman-temannya.
2. Mempunyai lebih dari 2 teman dekat.
3. Berani menjadi pemimpin.
4. Suka mengajari temannya tentang sesuatu hal.
5. Menjadi anggota suatu kelompok, klub atau semacamnya.
6. Mempunyai perhatian yang tinggi pada orang lain.
7. Senang bersosialisasi dengan teman sebayanya.
8. Mempunyai rasa empati yang baik terhadap orang lain.
9. Suka memberi bantuan kepada teman.
Apakah kecerdasan interpersonal itu bersifat takdir bawaan lahir dan tidak bisa berubah? Tentu saja tidak. Meskipun ananda tidak memiliki ciri-ciri yang disebutkan di atas, ayah bunda jangan menyerah, karena sebetulnya kecerdasan ini bisa dilatih dan menjadi sebuah keterampilan (skills) dalam diri seseorang.
🌻BERIKUT ADALAH CARA MENGEMBANGKAN KECERDASAN INTERPERSONAL PADA ANAK USIA DINI :🌻
👑 A.    Mengasah kepekaan simpati dan empati
1.      Diberi apa🌿
Permainan di beri apa merupakan kegiatan simbolis memberikan sesuatu yang dibutuhkan oleh orang lain. Kegiatan ini bertujuan mengembangkan kemampuan bersimpati kepada sesama. Selain itu, kemampuan berbagi dan berjiwa sosial juga turut di kembangkan melalui permainan ini.
2.      Kalau aku jadi dia🌿
Kalau aku jadi dia merupakan kegiatan mengendalikan diri menjadi orang lain untuk melihat pikiran dan perasaan orang lain. Kegiatan ini bertujuan merangsang kemampuan berempati anak. Kegiatan ini juga menciptakan cikal bakal kemampuan melihat perspektif orang lain.
3.      Apa maunya🌿
Apa maunya merupakan kegiatan menebak apa yang di butuhkan dan di inginkan oleh orang lain. Kegiatan ini bertujuan mengasah kepekaan dan empati anak serta mengembangkan kemampuan menangkap maksud dan motivasi orang lain.
👑 B.     Bekerja sama dan bermain peran seperti pasar-pasaran dan sejenisnya yang bertujuan mengembangkan kemampuan berinteraksi antar anak.
👑 C.     Berbagi Rasa
Berbagi rasa merupakan salah satu indikator kecerdasan interpersonal yang melibatkan kemampuan bersosialisasi dan berinteraksi dengan orang lain.
1.      Cerita Pengalaman🌿
Menceritakan pengalaman merupakan kegiatan menyampaikan pikiran dan perasaan yang dialami dengan kata-kata di hadapan orang lain. Kegiatan ini bertujuan merangsang kemampuan anak berbagi rasa dengan orang lain.
2.      Menghibur Teman🌿
Menghibur teman merupakan kegiatan memahami masalah orang lain dan memberikan perhatian atau menghiburnya agar tidak bersedih. Kegiatan ini bertujuan mengasah kemampuan bersimpati dan berbagi rasa.
👑 D.    Menjalin Kontak
Kemampuan menjalin kontak menunjukkan kecerdasan interpersonal yang tinggi. Anak-anak didorong untuk memiliki keberanian dan kemauan untuk menjalin kontak dan membina hubungan baik dengan orang. Ajarkan anak untuk memuji, memuji merupakan tindakan memberikan apresiasi berupa kata-kata terhadap orang lain untuk menimbulkan rasa senang. Kegiatan ini bertujuan mengembangkan kemampuan menjalin kontak dengan anak-anak.
👑 E.     Mengorganisasi Teman
Misal dalam permainan jurit

Permainan jurit adalah kegiatan bermain dibawah pimpinan seorang anak dalam kelompok dan bertujuan mencapai suatu tujuan. Kegiatan ini bertujuan mengembangkan kemampuan anak memandu kelompok dan memupuk rasa percaya anak pada pemimpinnya.
👑 F.      Menebak Suasana Hati
Hati Senang Hati Kacau

Merupakan kegiatan belajar menebak suasana hati seseorang dengan memperhatikan ciri informasi yang diberikan. Kegiatan ini bertujuan menstimulasi kemampuan anak menangkap suasana hati orang lain.
👑 G.    Memotivasi orang lain
1.      Jadi Suporter🌿
Merupakan kegiatan memberikan dukungan berupa kata-kata untuk membangkitkan semangat kepada teman atau klub yang disukainya. Kegiatan ini bertujuan mengembangkan kemampuan anak dalam memotivasi orang lain.
2.      Mendukung Teman🌿
Merupakan kegiatan memberikan dukungan berupa kata-kata atau tindakan untuk menimbulkan semangat pada orang atau keompok. Kegiatan ini bertujuan mengembangkan kemampuan memberikan motivasi kepada orang lain.
Ayah Bunda,

Seperti yang kita tahu, kecerdasan interpersonal adalah salah satu kecerdasan yang begitu penting dalam menentukan seberapa sukses seseorang bisa bekerja, berumahtangga dan hidup dalam lingkungan sosialnya. Jadi mengajarkan ananda keterampilan sosial tidaklah akan sia- sia.
🌻 Hire character. Train skill. – Peter Schutz.🌻
Salam,

Admin 😊
🌍 Sumber Bacaan ⤵
📚 Psikologan.blogspot.co.id

📚 anak-usiadini.blogspot.co.id

Copas El Hana Learning Kit

First Day of School

“BUNDA IKUT SEKOLAH, NGGAK?”

🎒 (PERTANYAAN ‘AJAIB’ ANAK SEPUTAR SEKOLAH) 🎒
Pengalaman pertama bersekolah tentu menjadi sesuatu yang sangat menarik sekaligus mencemaskan bagi balita Ayah Bunda. Hari- hari biasa mereka lalui dengan didampingi ayah bunda/ kakek nenek/ pengasuh di rumah, lalu sekarang mereka harus berada di tempat baru dengan orang- orang yang masih asing bagi dirinya. Perasaan tidak nyaman tentu sangat wajar ada, dan perasaan- perasaan tidak nyaman itu lantas keluar menjadi berbagai pertanyaan- pertanyaan ‘ajaib’ mereka untuk Ayah Bunda.

Lalu kita harus menyiasati seperti apa?

Supaya jawaban kita mampu meredakan kecemasan ananda dan membuatnya justru semakin tertarik untuk bersekolah.
Berikut adalah beberapa pertanyaan “ajaib” ananda beserta jawabannya yang dipaparkan oleh psikolog, Vera Itabiliana K. Hadiwidjojo, Psi, Psikolog Anak dan Remaja, Klinik Psikologi Rumah Hati, Jakarta⤵
📯 “Bunda ikut sekolah,  nggak?” 
Jawaban: “Iya, Bunda nanti ikut sekolah. Tapi Bunda hanya ikut sampai di pagar atau depan kelas.”
Anak sudah perlu tahu batasan- batasan yang diberikan. Jika pihak sekolah memang mengizinkan orangtua menunggu, katakan saja padanya di mana Anda akan menunggunya. Tapi jika pihak sekolah melarang, jelaskan padanya dengan jujur namun tetap menggunakan kata- kata yang positif. 
Coba beri jawaban seperti, “Setelah  kamu pulang sekolah, Bunda akan menjemputmu. Tapi sekarang Bunda hanya bisa ikut sampai depan kelas.” Hindari membohongi anak, terutama di awal masa sekolah, misalnya dengan mengatakan,  “Bunda akan menemani kamu,” namun Anda malah pergi diam- diam. Hal itu hanya akan memperberat perpisahannya dengan Anda. 
📯 “Kalau aku mau pup atau pipis, bagaimana?”
Jawaban: “Katakan kepada Ibu Guru kamu jika kamu ingin pup atau pipis.”

Buang air adalah salah satu hal yang private, jadi anak mungkin merasa malu untuk mengatakannya.  Ajarkan ananda untuk berani mengatakan pada guru mereka jika ingin buang air. Namun terkadang tidak cukup dengan ucapan saja, tapi ia  juga perlu latihan berbicara langsung. Karena itu cobalah  bermain peran di rumah dan jadilah gurunya. Ciptakan suasana layaknya di sekolah dan minta anak mengatakan hal- hal yang telah Anda ajarkan. Hal ini untuk membiasakan anak anak ketika benar-benar berada di dalam kelas.
📯 “Nanti aku main dengan siapa?”
Jawaban: “Kamu nanti main dengan teman-teman”

Lebih baik jika Anda menyebutkan saja nama satu atau dua orang temannya di sekolah secara spesifik. Untuk itu,  Anda juga perlu bersosialisasi agar dapat mengenal teman-temannya lebih baik. Sebab orang tua memiliki peranan penting dalam membantu anak berkenalan dengan teman lainnya di masa awal sekolah. Jadi, tidak hanya anak yang mendapat teman baru, Anda juga bisa berkenalan dengan orang tua lain.
📯 “Kalau temanku nakal, bagaimana?”
Jawaban: “Bilang  pada dia kalau kamu tidak suka pada kenakalannya.”

Ajarkan anak untuk melawan ketika dinakali.  Namun bukan melawan dalam bentuk fisik,  tapi lebih baik dalam bentuk kata-kata. Misalnya ketika ada temannya yang nakal, latih  ia  mengatakan, “Jangan pukul aku! Kalau kamu memukulku, aku tidak mau main dengan kamu lagi.” 
Tapi beritahukan padanya, ia boleh bermain lagi dengan temannya, jika ia sudah tidak nakal lagi. Hindari mengajarkan anak untuk mengabaikan kenakalan temannya, karena dia akan terbiasa mengabaikan dan kabur dari masalah. Ajak anak untuk lebih asertif, yaitu untuk mengomunikasikan apa yang diinginkan, dirasakan dan dipikirkan kepada orang lain,  namun dengan tetap menjaga dan menghargai hak- hak serta perasaan temannya.
📯 “Aku makannya bagaimana?”
Jawaban: “Kamu makan sendiri, kan, sudah besar dan  sekolah. Kamu bisa.”

Jauh sebelum sekolah, Anda pasti sebaiknya mengajarkan anak untuk bisa makan sendiri. Jika masih ia masih sulit  mengonsumsi makanan besar, ajarkan ia untuk mengonsumsi makanan ringan seperti roti, buah atau kue- kue. 
Anda juga harus membantu membangkitkan selera makannya di sekolah dengan menyiapkan bekal-bekal yang lucu dan menarik untuknya. Selain dapat meningkatkan selera makan, anak juga akan dengan bangga memerkan bekal buatan Anda pada teman-temannya.
📯 “Aku boleh bawa mainan, nggak?”
Jawaban: “Boleh. Kalau teman- temannya  meminjam mainanmu boleh tidak?”

Katakan padanya bahwa teman- temannya mungkin ingin memegang dan mencoba bermain dengan mainan miliknya. Jika anak menjawab “boleh”, biarkan dia membawa mainannya. Namun kurangi frekuensinya perlahan-lahan. Tetapi jika anak menjawab “tidak”, tentu ia akan berhenti untuk membawa mainannya ke sekolah. 
Namun terkadang ada sekolah yang tidak menginzinkan anak untuk membawa mainan ke sekolah. Jadi katakan padanya bahwa ibu guru  melarang siapapun membawa mainan ke sekolah karena di sekolah sudah ada banyak mainan.
📯 “Bunda kalau nanti aku cape bagaimana?”
Jawaban: “Katakan kepada Ibu guru kalau kamu cape.”

Biasanya guru pendamping akan berusaha menghibur dan mengembalikan lagi semangat anak untuk belajar. Namun, latih anak untuk terbiasa menghadapi dunia sekolah melalui kegiatan- kegiatan di rumah. 
Misalnya, anak akan banyak mendengarkan di sekolah, karena itu di rumah biasakan membacakan anak buku cerita. Kegiatan tersebut juga dapat melatih konsentrasinya ketika mendengarkan cerita Anda. 
Hindari melatih anak mendengarkan dalam jangka waktu yang terlalu lama. Mulailah dari waktu yang singkat dan kemudian bertambah seiring berjalannya waktu. Berikan juga instruksi- instruksi sederhana agar ia terbiasa ketika mendengarkan perintah guru di sekolah.
📯 “Nanti, ngapain di sekolah?”
Jawaban: “Main.”

Di usia balita ini anak akan lebih senang jika mendengar kata ‘bermain’. Hindari mengatakan padanya kata ‘belajar’. Katakan saja, bahwa di sekolah nanti dia akan bermain, bukan hanya dengan teman-temannya saja, tapi juga bermain dengan angka, huruf, hingga beragam mainan. Biasanya sekolah juga akan mengemas tugas atau hal- hal yang harus dipelajari balita dalam bentuk permainan,  sehingga ia tidak akan merasa terbebani dan senang pergi ke sekolah setiap hari. 
📯 “Bunda nanti di mana?”
Itu adalah pertanyaan yang paling sering ditanyakan oleh balita ketika hendak sekolah. Hal itu karena  anak masih memiliki ketakutan untuk berpisah dengan orang terdekat dan harus bertemu dengan orang- orang baru. Jika anak menangis, hindari langsung menghampirinya, karena itu akan semakin membuatnya tergantung pada Anda. Selain itu, ia juga akan belajar, bahwa ketika dia menangis di sekolah maka Anda akan segera datang. Beri kesempatan guru untuk meredakan tangisnya.
•••
Ayah Bunda, kunci keberhasilan melepas anak di sekolah pertamanya adalah jangan khawatir berlebihan, karena itu akan terbaca oleh ananda. Semakin ayah bunda khawatir, semakin anak – anak tidak percaya diri. Berikanlah kepercayaan dan tantangan pada mereka. 
Children have to be educated, but they have also to be left to educate themselves.  ~Abbé Dimnet, Art of Thinking, 1928
Semoga bermanfaat 😉
Salam,

Admin 😊
🌍 Sumber Bacaan ⤵
📚 http://googleweblight.com/?lite_url=http://www.ayahbunda.co.id/balita-psikologi/pertanyaan-27ajaib27-seputar-sekolah&ei=CJF7Yj5F&lc=id-ID&s=1&m=548&host=www.google.co.id&ts=1500269240&sig=ALNZjWk4XtTszHsxFnp3vMZhWUlAibANdA

Copas El Hana Learning Kit

🔥Membantu Anak untuk Berani di Sekolah🔥

Selamat pagi Ayah dan Bunda⛅️, aktivitas sekolah 📚sudah berjalan rutin, akan tetapi pada sebagian anak terutama yang baru akan pengalaman bersekolah, seperti anak yang baru masuk Kelompok Bermain🎒, Taman Kanak-Kanak🎒, ataupun Sekolah Dasar👟, lingkungan baru dan cenderung asing akan berdampak pada psikis si anak.  Sebagian anak merasa tidak berani atau enggan untuk ditinggal orang tuanya di kelas, lantas bagaimana menyikapinya?
✏️Ada hal lain yang perlu diketahui anak tentang keberanian – Keberanian disini bisa berarti mandiri, cepat beradaptasi dengan lingkungan baru di sekolah, bersikap baik terhadap anak baru di kelas, mencoba sesuatu yang baru, dan berbicara untuk sesuatu yang mereka percaya.
✏️Ayah dan Bunda tidak perlu merasa kecil hati atau merasa gagal apabila mengalami anak yang belum berani untuk ditinggal di sekolah, sebagian anak tentunya memerlukan waktu untuk menyesuaikan diri dengan suasana dan lingkungan baru sekolahnya, tetapi tidak lantas menghabiskan waktu hingga berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan.
Berikut adalah beberapa tips agar anak berani di sekolah:

1️⃣Pertama-tama siapkan mentalnya, orangtua harus menjelaskan kepada anak sejak usia dini mengenai kewajiban untuk menuntut ilmu (Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim”. (HR. Ibnu Majah))dan tujuan utama kenapa anak harus bersekolah, ajaklah mereka cerita tentang cita-cita mereka. 

2️⃣Selain itu juga orang tua memberi tahu kepada anak, kurang lebih apa yang akan dilakukan di sekolah. Selama kegiatan di sekolah berlangsung guru lah yang menjadi pendamping nantinya apabila ada yang membuat tidak nyaman anak dapat bertanya kepada gurunya.

3️⃣Membuat anak senang di sekolah dengan menceritakan hal-hal menyenangkan di sekolah, baik itu guru, teman, maupun permainan yang seru.  Perlu kerja sama dengan guru sehingga guru tetap berusaha membuat anak tertarik dengan berbagai kegiatan di sekolah.  

4️⃣Tentukan target waktu untuk mendampingi anak di sekolah, misalnya di awal, Bunda tetap perlu ada di sekolah. Setiap kali anak mencari, dia bisa melihat Bunda tetap di sana. Beberapa hari setelahnya kalau anak sudah percaya, maka bisa dilepas. Yang pasti, jangan membohongi anak, pergi dengan diam-diam. Jika seperti ini dikhawatirkan, anak sulit percaya pada Bunda dan justru berusaha ’mengikat’ Bunda. Jadi kalau Bunda mau pergi, cukup lambaikan tangan sambil tersenyum dan pergi.

5️⃣Berikan pujian untuk keberaniannya sekolah sendiri. Kalaupun anak menangis, Bunda dapat mengatakan, ”Tak mengapa menangis, tapi anak Bunda tetap berani kan sekolah sendiri.”

6️⃣Dan jangan lupa, ajak anak berdo’a agar dia berani.
✏️Menjadi orang tua hendaknya peka terhadap situasi dan kondisi anak berkenaan dengan sekolah.  Ada kalanya anak tidak berani atau enggan ke sekolah, Ayah dan Bunda perlu menangkap momen ini dengan membuat anak nyaman untuk bercerita apa alasannya.  Ketika misalnya, anak menghadapi pengalaman yang tidak menyenangkan, maka jangan jadikan lingkungan sekolah sebagai alasan anak tidak mau sekolah. Namun apabila anak takut sekolah lantaran teman dan lainnya, perlu perhatian khusus dengan melaporkan ke gurunya dan persiapkan juga apa yang dapat anak lakukan, seperti misalnya mengatakan kepada teman apa yang dirasakannya, menyuruh berhenti apabila ada perlakuan kasar dan tidak menyenangkan, serta ajarkan anak untuk mengatakan kepada guru.
✏️Semoga anak-anak kita menjadi pribadi yang berani di sekolah yaitu mandiri dan bersikap baik terhadap sesama 🙏🏻.
“Children who develop courage in the preschool years not only benefit by trying new things, but they gain an invaluable skill that will help them become resilient, courageous, and successful adults.”
Let’s go to School 👓
🌵Admin🌵

Copas El Hana Learning Kit

📚🌹KERJA SAMA ORANG TUA DAN GURU DALAM MENDIDIK ANAK🌹📚

“Itu kan, tugasnya guru di sekolah.” 
Ada sebagian orang tua yang beranggapan bahwa setelah anak dimasukkan ke dalam lingkungan sekolah, maka tanggung jawab diserahkan pada pihak sekolah SEPENUHNYA. Merasa sudah membayar mahal, orang tua maunya tahu beres. Padahal ini adalah tindakan yang salah.
Waktu yang dimiliki guru untuk mendidik siswa di lingkungan sekolah sangat terbatas. Bahkan seorang guru dalam prakteknya di lingkungan sekolah harus memperhatikan banyak siswa. Tentunya hal ini tidaklah mungkin dilakukan jika orang tua menyerahkan semuanya tentang kemajuan siswa ditangan guru seutuhnya. Dan sangat tidak mungkin jika guru hanya memperhatikan satu siswa saja.
Orang tua yang berhadapan langsung dengan anak di rumah, memiliki peran yang tidak kalah penting, bahkan jauh lebih besar dari guru. Sebagian besar waktu anak habis di rumah dan bukannya di sekolah. Di sekolah siswa belajar antara 6 hingga 7 jam sedangkan sisanya di rumah.
Orang tua memiliki tugas dan tanggung jawab terhadap anak bukan saja hanya menyiapkan makan, pakaian dan tempat tinggal. Namun lebih dari itu, orangtualah yang sesungguhnya menjadi pendidik utama bagi anak-anaknya. Hal inilah yang belum disadari oleh sebagian besar masyarakat.
Sebuah studi menjelaskan bahwa ada hubungan yang signifikan antara orang tua dan guru yang dapat mempengaruhi anak kita di sekolah. Pada hakekatnya, orang tua dan guru memiliki tujuan yang sama dalam pendidikan anak, yaitu mendidik, membina dan membimbing anak mengembangkan potensinya agar menjadi manusia yang berilmu dan berakhlak mulia. Dan hal ini dapat terwujud jika ada kerja sama yang baik antara orang tua dan guru.
Guna mendukung kerja sama antara orang tua dan guru, pihak sekolah bisa  memfasilitasi sebuah pertemuan rutin. Di dalam forum komunikasi tersebut bisa dibahas mengenai hal- hal diantaranya :
1. Guru menyampaikan visi dan misi pendidikan di sekolah. Guru juga menyampaikan hal- hal yang harus dilakukan orang tua saat mendampingi ananda di rumah.
2. Orang tua bisa membagikan informasi dan gambaran tentang kepribadian anak, minat dan ketrampilan. Gurunya sebaiknya tahu apa yang membuat buah hati Ayah Bunda begitu unik dan spesial.
3. Kegiatan konseling : Guru dan orang tua saling berkonsultasi terhadap kemajuan dan masalah yang dihadapi oleh ananda. Dalam kegiatan ini, orang tua yang satu dan lain juga bisa bertukar cerita dan saling memberi masukan.
4. Kunci membangun komunikasi yang baik dengan anak adalah “ aspirasi dan motivasi “. Ketauhilah apa kegiatan anak, siapa temannya, akan kemana mereka dan apa yang ingin mereka kerjakan. Orang tua bisa membantu anak belajar dan menunjukkan ketertarikan pada apa yang anak sukai.
5. Kegiatan bersama orang tua, guru dan siswa. Semisal perkemahan sabtu minggu, outbond, fieldtrip dsb. 
6. Pihak sekolah mengadakan seminar parenting. Pengetahuan orang tua siswa dalam mendidik anak akan bertambah. Pendidikan pada ananda insyaAllah akan membuahkan hasil lebih baik.
Guru di sekolah mendidik dengan sepenuh hati, demikian pula orang tua saat mendidik anaknya di rumah. Sudah bukan zamannya lagi jika orang tua menyerahkan tugas dan tanggung jawab pendidikan anaknya kepada guru semata. Kemudian berharap guru dapat menjadikan anaknya pintar dan berakhlak mulia.
Guru dan orangtua sama- sama memiliki kewajiban untuk menyukseskan belajar siswa. Untuk itu, baik guru maupun orangtua harus sama- sama aktif mempererat kerja sama di antara keduanya. Jika kerja sama antara  orang tua dan guru dapat terjalin dengan baik, maka sedikit demi sedikit pendidikan di Indonesia akan semakin memiliki kualitas yang baik dan tujuan pembelajaran yang direncanakan dapat tercapai dengan optimal.
insyaAllah.
“Before any great things are accomplished, a memorable change must be made in the system of education…to raise the lower ranks of society nearer to the higher.” – John Adams
Salam,

Admin 😊
🌍 Sumber Bacaan ⤵

📚 http://www.latimes.com/local/education/back-to-school/la-me-edu-how-parents-and-teachers-can-work-together-to-help-kids20150828-story.html

📚 http://hasrianrudisetiawan1.blogspot.co.id/2016/03/kerjasama-guru-dan-orang-tua-dalam.html

Copas El Hana Learning Kit

4 Hal Penting yang Menjadi Tujuan Anak Belajar

Assalamualaikum Wr Wb Ayah Bunda,
Sudah sebulan tahun ajaran baru dimulai, bagaimanakah kabar ananda di sekolah?
Semoga masih ceria dan menikmati aktivitas di lingkungan barunya ya.
Setelah pembahasan tentang BULLYING, hari ini sampai beberapa pekan ke depan kita akan mengangkat tema GAYA BELAJAR ANAK. Dari Mengapa gaya belajar anak penting untuk dipahami, sampai dengan Apa saja jenis gaya belajar sehingga kita bisa mengetahui buah hati kita termasuk kategori yang mana.
Jadi silahkan stay tune di Fanpage El Hana Learning Kit supaya tidak ketinggalan informasi.

Dan.. semoga bermanfaat 😉
MEMAHAMI GAYA BELAJAR ANAK, MENDAMPINGI DENGAN BENAR
Sejenak, kami akan mengajak Ayah Bunda kembali ke masa lalu. Ingat tidak dulu saat masih kecil kita adalah anak/ murid yang selalu menerima apa saja yang diberikan orangtua/ guru kita. Apabila ada hal- hal yang belum kita pahami, kita cenderung diam tidak bereaksi. Jarang ada yang berani untuk menanyakan kembali. Karena paradigma yang muncul saat itu, banyak bertanya dianggap bodoh atau mengganggu proses pembelajaran.
Itu baru tingkat pemahaman, guru/orangtua kita sangat sedikit yang mau memahami bagaimana cara kita bisa belajar dengan baik, yang ada kita harus menerima gaya orangtua/guru kita mengajar.

Sehingga anak yang gaya belajarnya tidak sesuai dengan gaya mengajar guru/orangtuanya, akan masuk kategori “siswa dengan tingkat pemahaman rendah” dan tak jarang mendapatkan label “bodoh”.
Jaman berubah, dan terus akan berubah. Sudah saatnya kita mengubah paradigma baru di dunia pendidikan.
Dari sisi orangtua/ pendidik:
Apabila anak tidak bisa belajar dengan cara/ gaya kita mengajar, maka kita harus belajar mengajar dengan cara mereka BISA belajar.
Dari sisi anak/siswa:
Setiap anak/siswa PASTI BISA belajar dengan baik, setiap anak akan belajar dengan CARA yang BERBEDA.

Sudah saatnya kita belajar memahami gaya belajar anak-anak ( Learning Styles ) dan memahami gaya mengajar kita sebagai pendidik ( Teaching Styles ) karena kedua hal tersebut di atas akan berpengaruh pada gaya bekerja kita dan anak-anak ( Working Styles ).
Bagaimana Mengenalinya?
Sejak anak usia 3 tahun, orangtua sudah bisa melihat kemana arah belajarnya. Orangtua bisa mengamati kecenderungan buah hati dari perilakunya sehari-hari. Sebetulnya bisa dipastikan bahwa ketiga gaya belajar ada pada setiap anak. Entah visual, auditori atau kinestetik. Tapi pasti ada satu yang dominan. Untuk mengetahui ini, diperlukan keaktifan orangtua dalam interaksi sehari-hari.
Sebelum kita membahas lebih lanjut tentang gaya belajar ada baiknya kita memahami terlebih dahulu untuk apa anak-anak ini harus belajar.
Ada 4 hal penting yang menjadi tujuan anak-anak belajar yaitu :
a. Meningkatkan Rasa Ingin Tahu anak ( Intellectual Curiosity )
b. Meningkatkan Daya Kreasi dan Imajinasinya ( Creative Imagination )
c. Mengasah seni / cara anak agar selalu bergairah untuk menemukan sesuatu ( Art of Discovery and Invention )
d.Meningkatkan akhlak mulia anak-anak ( Noble Attitude )
Fokuslah kepada 4 hal tersebut selama mendampingi anak-anak belajar. Ayah Bunda bisa membuat pengamatan secara periodik, apakah rasa ingin tahunya naik bersama kita/selama di sekolah? Apakah kreasi dan imajinasinya berkembang dengan bagus selama bersama kita /selama di sekolah? Apakah anak-anak suka menemukan hal baru, dan keluar Aha! Moment ( teriakan “Aha! Aku tahu sekarang” atau ekspresi lain yang menunjukkan kebinaran matanya) selama belajar?
Apakah dengan semakin banyaknya ilmu yang anak-anak dapatkan di rumah/ di sekolah semakin meningkatkan akhlak mulianya?
Setelah memahami tujuan anak-anak belajar baru kita memasuki tahapan-tahapan memahami berbagai gaya belajar anak-anak. Gaya belajar otomatis tergantung dari orang yang belajar. Artinya, setiap orang mempunyai gaya belajar yang berbeda-beda. Gaya belajar dapat menentukan prestasi belajar anak. Jika diberikan strategi yang sesuai dengan gaya belajarnya, anak dapat berkembang dengan lebih baik. InsyaAllah.
Pembahasan mengenai macam – macam gaya belajar yang sudah diteliti oleh para ahli akan dijelaskan satu demi satu pada artikel selanjutnya, dari situ kemudian kita bisa menentukan manakah gaya belajar yang paling sesuai dengan anak-anak kita.
“Every child has a different learning style and pace. Each child is unique, not only capable of learning, but also capable of succeeding.” – Robert John Meehan
Salam,
Admin 😊
🌍 Sumber Bacaan:
📚 Gordon Dryden and JeanetteVos, The Learning Revolution, ISBN-13: 978-1929284009

📚 Barbara Prashing, The Power of Learning Styles, Kaifa, 2014

📚 Institut Ibu Profesional, Bunda Sayang : Memahami Gaya Belajar Anak, GazaMedia, 2016

Copas El Hana Learning Kit

GAYA BELAJAR VISUAL

Halo Ayah Bunda,
Seperti yang sudah kita bahas di artikel sebelumnya, bahwa memahami gaya belajar anak memiliki peran yang sangat penting bagi orang tua juga buah hati kita. Kadangkala, saat Ia tak mampu memahami beberapa materi di sekolah pada standar yang tidak sama dengan teman-temannya, solusi pertama yang terlintas dalam pikiran kita bisa jadi mendaftarkan si kecil pada sebuah bimbingan belajar atau menjadwalkan les privat, meski bisa jadi si kecil justru tak menginginkannya.
Padahal, permasalahan anak yang tidak memahami materi, bisa jadi terletak pada cara penyampaian materi yang digunakan. Anak memiliki kemampuan berbeda dalam menyerap informasi (dalam hal ini adalah materi pelajaran). 
Hampir sebagian siswa menguasai semua hal yang mereka baca atau lihat. Sementara sebagian cukup degan mendengar saja, dan sisanya harus mengalami, kemudian menuliskan atau menggambarkan materi yang dihadapi untuk kemudian barulah mereka dapat menyerap) materi tersebut. Kemampuan inilah yang kemudian mempengaruhi gaya belajar anak.
Nah, dengan mengetahui gaya belajar buah hati kita, tentu kebingungan dan penanganan yang kurang tepat bisa dihindari. Lalu, apa saja sih gaya belajar yang ada? Dalam buku Quantum Learning dipaparkan 3 modalitas belajar seseorang yaitu : modalitas visual, auditori atau kinestetik (V-A-K). Walaupun masing2 dari kita belajar dengan menggunakan ketiga modlaitas ini pada tahapan tertentu, kebanyakan orang lebih cenderung pada salah satu di antara ketiganya.
📝Tulisan kali ini akan mengulik lebih jauh tentang gaya belajar visual📝
🎈Anak dengan tipe visual ini biasanya cenderung rapi, teratur dan necis dalam berpakaian. Sangat detail dalam merapikan mainan maupun barang-barangnya. Pun biasanya, Ia sering dipuji karena duduk rapi dan memperhatikan guru dengan baik selama belajar di kelas. 
🎈Anak yang mempunyai gaya belajar visual memang harus melihat bahasa tubuh dan ekspresi muka gurunya untuk mengerti materi pelajaran. Mereka cenderung untuk duduk di depan agar dapat melihat dengan jelas. 
🎈Mereka berpikir menggunakan gambar-gambar di otak mereka dan belajar lebih cepat dengan menggunakan tampilan-tampilan visual, seperti diagram, buku pelajaran bergambar, dan video. Di dalam kelas, anak visual lebih suka mencatat sampai detil-detilnya untuk mendapatkan informasi. 
🎈Hanya saja, biasanya anak tipe visual tidak terlalu banyak bicara ketika dalam kelompok. Dan ketika mendapat perintah atau instruksi, Ia cenderung menunggu teman-temannya melakukan terlebih dahulu, baru Ia akan mengikutinya.
🎈Metode mengajar anak dengan tipe visual sebaiknya lebih banyak / dititikberatkan pada peragaan / media, ajak mereka ke obyek-obyek yang berkaitan dengan pelajaran tersebut, atau dengan cara menunjukkan alat peraganya langsung pada siswa atau menggambarkannya di papan tulis. 
🎈Ketika kita belajar tentang proses terjadinya hujan, misalnya, maka ajak Ia untuk membuat poster bergambar. Atau bisa dengan menjerang air di panci dan kemudian mengamati air yang jatuh dari tutupnya ketika diangkat.
📝Berikut adalah beberapa poin tentang ciri-ciri anak dengan gaya belajar visual:
• Bicara agak cepat dan nada suaranya cenderung tinggi

• Tulisan tangannya biasanya cukup bagus dan rapi

• Mementingkan penampilan dalam berpakaian/presentasi

• Tidak mudah terganggu oleh keributan

• Mengingat yang dilihat, dari pada yang didengar

• Lebih suka membaca dari pada dibacakan

• Pembaca cepat dan tekun

• Seringkali mengetahui apa yang harus dikatakan, tapi tidak pandai memilih kata-kata

• Lebih suka melakukan demonstrasi dari pada pidato

• Lebih suka musik dari pada seni

• Mempunyai masalah untuk mengingat instruksi verbal kecuali jika ditulis, dan seringkali minta bantuan orang untuk mengulanginya.
📝Ada beberapa strategi untuk mempermudah proses belajar anak visual, yaitu:
1. Gunakan materi visual seperti, gambar-gambar, diagram dan peta.

2. Gunakan warna untuk menghilite hal-hal penting.

3. Ajak anak untuk membaca buku-buku berilustrasi.

4. Gunakan multi-media, misalnya komputer atau video

5. Gunakan mind map

6. Ajak anak untuk rajin mencatat dan mencoba mengilustrasikan ide-idenya ke dalam gambar.
Nah, dari pembahasan ini, adakah anak Ayah Bunda yang merupakan tipe visual? Semoga dengan diberikan strategi yang sesuai dengan gaya belajarnya, maka ananda bisa menyerap informasi dan pengetahuan dengan lebih optimal💕💕💕
Semoga bermanfaat^^

Admin.

Copas El Hana Learning Kit

GAYA BELAJAR KINESTETIK

Dear, Ayah Bunda,

Teman saya yang seorang guru pernah bercerita bahwa salah satu muridnya ada yang susah sekali untuk diam di kelas. Tidak suka menulis atau menggambar, dan lebih suka bermain di kolong mejanya. Bahkan jika dibujuk untuk menulis, dia akan ijin ke kamar kecil dan bisa dipastikan tak akan kembali ke kelas hingga ‘dijemput’ oleh sang guru.
No wonder, jika buku catatannya selalu bersih. Saking bersihnya, tak ada sedikitpun tulisan di sana :D. Sebagian kita mungkin berfikir bahwa anak ini malas sekolah ya. Tapi NO, dia sangat bersemangat sekolah. Tapi tidak dengan menulis. 
Orang tua si anak ini sempat panik, sempat mengambil alih untuk mencatat segala pejalaran di kelas dengan meminjam buku punya temannya. Tapi mau sampai kapan?
Hingga akhirnya guru dan orang tua menyadari satu hal, bahwa anak ini memiliki gaya belajar kinestetik. Ayah Bunda pernah mendengarnya? Ya, selain visual dan auditori -yang sudah kita bahas di artikel sebelumnya- memang merupakan gaya belajar yang cenderung populer. Tapi, ada satu lagi gaya belajar yang ada yaitu kinestetik, yang seperti cerita saya di atas memiliki ciri tidak betah diam berlama-lama, dan dalam menerima informasi yang efektif cenderung menggunakan cara kinestetik atau melibatkan gerakan tubuh. Bergerak, menyentuh, dan melakukannya langsung.
Lalu bagaimana ciri-ciri umum dan bagaimana tips serta strategi pembelajaran untuk mencapai hasil yang optimal untuk si anak 🐝kinestetik? Yuk kita simak bersama😉
🐝CIRI-CIRI UMUM🐝
• Tidak betah duduk di kursi lama-lama

• Penampilan cenderung rapi

• Tempo bicaranya lambat

• Belajar tidak mudah terganggu oleh situasi sekitar

• Belajar melalui manipulasi dan praktek

• Menghafal dengan cara berjalan dan melihat

• Saat berpikir bola mata cenderung bergerak-gerak ke bawah

• Menggunakan jari sebagai penunjuk ketika membaca

• Merasa kesulitan dalam menulis tapi hebat dalam bercerita

• Menyukai buku-buku dan menunjukkan aksi dengan gerakan tubuh saat membaca

• Menyukai permainan yang menyibukkan

• Sulit mengingat geografi

• Suka menyentuh orang untuk mendapatkan perhatian mereka
⛅TIPS DAN STRATEGI UNTUK MEMPERMUDAH PROSES BELAJAR ANAK KINESTETIK⛅
• Jangan paksakan anak untuk belajar sampai berjam-jam

• Perbanyak frekuensi break atau jeda untuk istirahat

• Ajak anak untuk belajar sambil mengeksplorasi lingkungannya (contohnya: ajak dia baca sambil bersepeda, gunakan obyek sesungguhnya untuk belajar konsep baru)

• Izinkan anak untuk mengunyah permen karet pada saat belajar

• Gunakan warna terang untuk menghilite hal-hal penting dalam bacaan

• Izinkan anak untuk belajar sambil mendengarkan musik karena biasanya kaki dan tangan akan digerak-gerakkan yang membantunya untuk menyerap materi dengan lebih optimal
Nah, Ayah Bunda, sudah ada artikel lengkap tentang tiga gaya belajar yang berbeda. Semoga bermanfaat untuk mengeksplor apa sebenarnya gaya belajar si kecil dan menemukan strategi belajar yang paling tepat untuknya. Di artikel yang akan datang, insyaAllah akan kita bahas dengan lebih jelas bagaimana cara menemukan gaya belajar yang sesuai dan perlunya kita sebagai orang tua untuk menstimulasi semua gaya belajar di usia balita.
Sampai jumpa😊

Admin.

Copas El Hana Learning Kit

🍓 GAYA BELAJAR GLOBAL DAN ANALITIK 🍓

Pada umumnya kita mengetahui ada tiga gaya belajar, yaitu VISUAL, AUDITORI dan KINESTETIK. Banyak yang belum tahu bahwa ternyata ada lagi jenis gaya belajar yang lain, yaitu gaya belajar GLOBAL dan gaya belajar ANALITIK.

Gaya belajar ini dikemukakan oleh seorang peneliti di bidang psikologi bernama Herman Witkin. Gaya belajar ini melihat anak DALAM BERFIKIR dan MEMAHAMI SESUATU. 

Kecenderungan gaya belajar ini akan mempengaruhi anak dalam banyak hal, seperti: cara dia mendengarkan, memperhatikan, menyimpan informasi, dan cara menggunakan informasi tsb.
Berikut ini kita akan mengenal Gaya Belajar GLOBAL dan ANALITIK secara lebih terperinci.
🍭🍓 GAYA GELAJAR GLOBAL 🍭🍓
Anak dengan gaya belajar global memiliki kemampuan memahami sesuatu secara menyeluruh. Pemahaman yang dimiliki berisi gambaran yang besar dan juga hubungan antara satu objek dengan yang lainnya. Anak dengan gaya belajar global juga mampu mengartikan hal – hal yang tersirat dengan bahasanya sendiri secara jelas. 
CIRI – CIRI GAYA BELAJAR GLOBAL ⤵
🍓 Bisa melakukan banyak tugas sekaligus

🍓 Mampu bekerjasama dengan orang lain dengan baik

🍓 Sensitif dan mampu melihat permasalahan dengan baik

🍓 Mampu mengutarakan dengan kata- kata tentang apa yang dilihatnya
Anak dengan gaya belajar global biasanya kurang rapi, meskipun sebenarnya menyukai kerapian. Dalam melakukan suatu hal, seringkali berserakan dan barang- barangnya tidak rapi. Untung mengatasi hal ini maka akan membuat suatu sistem penataan dengan mengkategorikan barang- barang sesuai tipenya. Anak dengan tipe global ini tidak bisa hanya memikirkan satu hal namun memikirkan banyak hal sekaligus. Meskipun satu tugas belum selesai, dia juga akan mengerjakan tugas berikutnya. Anak dengan gaya belajar global peka terhadap sekitarnya termasuk perasaan orang lain dan merasa senang untuk bekerja keras membuat orang lain senang. Cenderung memerlukan banyak dorongan semangat pada saat akan memulai melakukan sesuatu.
🍓🍭 GAYA BELAJAR ANALITIK 🍭🍓
Anak dengan gaya belajar analitik memiliki kemampuan dalam memandang sesuatu cenderung ditelaah terlebih dahulu secara terperinci, spesifik, dan teratur. Mengerjakan suatu hal secara bertahap dan urut.
CIRI – CIRI GAYA BELAJAR ANALITIK ⤵
🍓 Berfokus mengerjakan satu tugas, tidak akan ke tugas berikutnya jika tugasnya belum selesai.

🍓 Berfikir secara logika

🍓 Tidak menyukai jika ada bagian yang terlewatkan dalam suatu tugas

🍓 Cara belajar konsisten dan menetap
Anak dengan gaya belajar analitik menilai sesuatu berdasarkan fakta- fakta. Namun seringkali mereka tidak mampu menemukan titik gagasan utamanya tentang tujuan tugas yang sedang dia lakukan. Berfokus pada satu masalah atau tugas sampai selesai.

Anak dengan gaya belajar analitik lebih cocok belajar sendiri baru kemudian bergabung dengan kelompok belajar. Mereka juga mengalami kesulitan dalam belajar dikarenakan hanya berfokus pada satu hal. Cara terbaik untuk mengatasinya yaitu membuat jadwal belajar yang terstruktur sehingga sasaran belajar yang ingin dicapai jelas. Metode belajar yang tepat yaitu dengan konsisten melakukan atau mengerjakan tugas sesuai dengan jadwal harian yang dibuatnya.
🍭 PERBEDAAN GAYA BELAJAR GLOBAL DAN ANALITIK DOMINAN 🍭
Perbedaan antara gaya GLOBAL dominan dan ANALITIK dominan dapat dilihat saat mereka mendengarkan dan mengikuti petunjuk dalam mengerjakan tugas. Saat guru memberikan petunjuk, anak ANALITIK dominan akan cenderung mendengarkan dengan hati-hati, kemudian ingin mulai mengerjakan tugasnya tanpa gangguan apapun.

Sementara itu anak GLOBAL dominan mungkin juga mendengarkan petunjuk, namun dia mungkin sering bertanya supaya petunjuk diulangi. Seorang anak GLOBAL akan mendengarkan apa perlunya mengerjakan tugas, dan bukan sekedar bagaimana melakukannya. Maka anak GLOBAL akan cenderung bertanya- tanya hal-hal yang tidak diucapkan gurunya.

Bagi anak ANALITIK mungkin akan frustasi bila petunjuk-petunjuk diulangi, karena mereka sudah fokus pada tugas dan tidak ingin mendengarkan kembali sesuatu yang sudah mereka ketahui.

Sebaliknya, jika seorang anak GLOBAL diberitahu tidak akan ada pengulangan instruksi dan mereka harus mengerti dengan sekali mendengar, maka mereka akan menjadi sangat tertekan, sebab mereka tahu mereka mungkin tidak mampu mengerjakan tugas hanya dengan mendengarkan petunjuk sekali saja.
Setiap anak adalah individu yang unik, masing-masing akan melihat dunia dengan “cara”nya sendiri. Meskipun melihat satu kejadian pada waktu yang bersamaan, tidak menjamin 2 orang anak akan melaporkan hal yang sama. Seringkali yang menjadi pergumulan dalam dunia pendidikan bukan pada masalah “apakah anak DAPAT belajar”, tetapi pada masalah “BAGAIMANA mereka secara alami belajar dengan cara terbaiknya”.
Salam,

Admin 😊
🌍 Sumber Bacaan ⤵
📚 Cara Mereka Belajar, Cythia Ulrich Tobias, Harvest Publication House : Jakarta, 1996

Copas El Hana Learning Kit

🍇PERLUNYA MENSTIMULASI SEMUA GAYA BELAJAR DI USIA DINI🍇

Masa anak merupakan fase yang sangat fundamental atau penting bagi perkembangan individu. Masa anak juga merupakan peluang besar untuk pembentukan dan pengembangan pribadi seseorang. Usia dini yang juga disebut sebagai masa emas (golden age) merupakan masa kritis, di mana seorang anak membutuhkan rangsangan yang tepat untuk mencapai kematangan yang sempurna. Keluarga merupakan pusat pendidikan yang pertama dan terpenting. Sedangkan sekolah adalah sebagai pembantu kelanjutan pendidikan dalam keluarga.
Hal yang mempengaruhi kegiatan belajar anak bergantung pada tipe kecerdasan dan modalitas belajar anak yang berbeda. Modalitas belajar ialah semua organ indera yang mendukung fungsi belajar anak. Ada anak yang memiliki pendengaran yang tajam, ada anak yang penglihatannya awas dan tajam atau perabaannya yang sensitif. Di sisi lain, ada anak yang memiliki perasaan yang peka. Semua modalitas belajar tersebut selanjutnya digunakan untuk belajar.

Belajar adalah suatu proses. Artinya kegiatan belajar terjadi secara dinamis dan terus- menerus yang menyebabkan terjadinya perubahan dalam diri anak. Perubahan yang dimaksud dapat berupa pengetahuan (knowledge) atau perilaku (behavior). Dua anak yang tumbuh dalam kondisi dan lingkungan yang sama, meskipun mendapat perlakuan yang sama, belum tentu akan memiliki pemahaman, pemikiran dan pandangan yang sama terhadap dunia sekitarnya. Masing-masing memiliki cara pandang sendiri terhadap setiap peristiwa yang dilihat dan dialaminya. Cara pandang inilah yang kita kenal sebagai “Gaya Belajar”. 

Belajar sebenarnya mengandung arti bagaimana kita menerima informasi dari dunia sekitar kita dan bagaimana kita memproses dan menggunakan informasi tersebut. Mengingat setiap individu memiliki keunikan tersendiri dan tidak pernah ada dua orang yang memiliki pengalaman hidup yang sama persis, hampir dipastikan bahwa “Gaya Belajar” masing-masing orang berbeda satu dengan yang lain. 

Gaya belajar setiap anak dipengaruhi oleh faktor alamiah (pembawaan) dan faktor lingkungan . Jadi ada hal-hal tertentu yang tidak dapat diubah dalam diri seseorang bahkan dengan latihan sekalipun. Tetapi ada juga hal-hal yang dapat dilatihkan dan disesuaikan dengan lingkungan yang terkadang justru tidak dapat diubah.
Mengenali gaya belajar anak, belum tentu membuat anak menjadi lebih pandai. Tapi dengan mengenali gaya belajar anak, kita akan dapat menentukan cara belajar yang lebih efektif. Ayah Bunda tahu bagaimana memanfaatkan kemampuan belajar anak secara maksimal, sehingga hasil belajar yang diperoleh dapat optimal.
Gaya belajar anak bisa kita amati dari sejak usia 3 tahun. Cara mengenalinya dengan mengamati aktivitas sehari- hari anak. Ayah Bunda bisa amati aktivitas yang paling sering diulang, paling diminati atau disukai anak sehingga anak merasa nyaman dan betah. Ayah Bunda dapat menggunakan panduan berdasarkan artikel – artikel El Hana sebelumnya tentang gaya belajar (baik visual, audio, kinestetik maupun global analitik). Yang terpenting untuk dilakukan orang tua adalah bukan sekedar mengenali gaya belajar anak, namun menstimulasi anak sejak usia dini yakni dari bayi hingga usia 8 tahun dengan memberikan beragam aktivitas untuk membantu perkembangannya.

Sebenarnya hampir semua anak usia dini memiliki gaya belajar campuran, sangat sedikit anak yang memiliki hanya satu gaya belajar. Gaya belajar campuran adalah gaya belajar dimana anak kadang bertipe auditorial sekaligus visual dan atau juga kinestetik, atau hanya kinestetik dan visual. Jadi anak perlu banyak distimulasi lewat bermain. Ketika anak melakukan kegiatan main, semua alat indra dan kinestetiknya akan dimanfaatkan secara maksimal. Itulah sebabnya bermain merupakan kegiatan yang paling tepat diberikan pada anak usia dini, karena di samping menyenangkan buat anak, juga akan memaksimalkan pengindraan dan kinestetik anak, sehingga mampu memberikan informasi pengetahuan sebanyak-banyaknya pada anak. Ketika anak bermain lompat tali maka otomatis kinestetiknya akan berkembang, anak juga akan mengamati bunyi yang ditimbulkan oleh lompatan kaki, anak akan berusaha menghitung berapa kali 

mereka melompat dan melihat/mengamati gerak tali atau kesalahan yang dilakukan temannya. Kegiatan gerak, mendengar dan mengamati tersebut merupakan berbagai kegiatan belajar yang melibatkan seluruh alat indra anak. 
Anak memiliki dunia dan karakteristik tersendiri yang jauh berbeda dari dunia dan karakteristik orang dewasa. Anak itu sangat aktif, dinamis dan anak memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Rasa ingin tahu yang tinggi ini yang menunjukkan anak sudah memulai aktivitas belajar walaupun gaya belajar anak masih sebagian besar dilakukan dengan bermain.
For any child, LIFE remains a sea full rich experiences just waiting to be explored. – Natan Gendelman
Salam,

Admin 😊
🌍 Sumber Bacaan ⤵
📚 Pemahaman Gaya Belajar Pada Anak Usia Dini. Jurnal STAIN Kudus.

📚 http://www.balitabunda.com

Copas El Hana Learning Kit